Obyek Wisata Yang Ada di Kota Banjarbaru

 obyek wisata banjarbaru

Kota Administratif Banjarbaru memiliki cukup banyak lokasi yang dapat dijadikan sebagai obyek wisata, baik itu berupa Wisata Alam, Wisata Buatan, Wisata Religius, Wisata Sejarah/Wisata Budaya, dan Wisata Adat yang cukup potensial untuk dikembangkan.

WISATA SEJARAH / WISATA BUDAYA
Museum Lambung Mangkurat
Museum ini merupakan tempat penyimpanan benda-benda peninggalan sejarah dan budaya Banjar serta profil daripada wajah Kalimantan Selatan dalam berbagai aspek kehidupan dan potensi alamnya. Koleksi Museum ini terdiri dari peninggalan Kesultanan Banjar, Situs Candi Agung, Candi Laras, Perkakas dari batu, Ukiran kayu ulin, perkakas pertanian dan perabot rumah tangga, Alat musik tradisional dan lain-lain.
Museum ini diresmikan dan mulai berfungsi pada 10 Januari 1978 dan terletak ditengah Kota Banjarbaru.
museum lambung mangkurat Museum Lambung Mangkurat
Waktu tempuh menuju lokasi yaitu ± 25 menit dengan memakai mobil dari Kota Banjarmasin, atau ± 35 menit dengan menggunakan sepeda motor. Menyimpan berbagai peninggalan sejarah dan budaya serta gambaran dari pada wajah Kalimantan Selatan dalam berbagai aspek kehidupan alam dan potensial alamnya.
 Salah satu peninggalan zaman dahulu Kitab Injil berbahasa Melayu Banjar
Museum yang berisi benda-benda peninggalan Suku Banjar dan Dayak. Patung-patung yang berasal dari Candi Hindu yang ada di Kalimantan juga terdapat di Museum Lambung Mangkurat ini. Juga terdapat meriam, pedang dan benda-benda lain sisa-sisa perang melawan Belanda. Koleksi "Museum Lambung Mangkurat" lainnya adalah peralatan Sunat Tradisional Banjar seperti Pisau dan Daun yang digunakan sebagai Antibiotic. Koleksi paling menarik dari Museum Lambung Mangkurat ini adalah benda-benda hasil penggalian dari Candi-Candi Hindu seperti Candi Laras di Rantau dan Candi Agung di Amuntai. Di Kalimantan Timur antara lain Patung Sapi Nandi dan Symbol Alat Kelamin Dewa Syiwa yang disebut Lingang. Sisa-sisa Candi Laras terdapat di Desa Margasari, di dekat Kota Rantau, sedangkan sisa-sisa Candi Agung terdapat di Kota Amuntai yang berjarak 150 km dari Banjarmasin.
Barang koleksi Museum terdiri dari peninggalan Sultan Banjar, benda purbakala dari Candi Agung dan Candi Laras, Perkakas dari Batu, Ukiran Kayu Ulin, Perkakas Pertanian dan Perabot Rumah Tangga, Alat Musik Tradisional dan sebagainya.
taman idaman banjarbaru Ketopong Wayang Gung

WISATA BUATAN
Pasar Tradisional
Daya tarik Kota yang terletak di dekat Kota Banjarbaru ini adalah suasana pasar tradisional yang hanya digelar setiap hari Jumat. Pasar ini ramai dikunjungi para wanita Banjar dengan pakaian tradisional mereka yang berwarna-warni. Di lokasi pasar ini terdapat sebuah bangunan pasar berbentuk tradisional Banjar dengan atapnya yang berwarna biru.
Di pasar yang luas ini, wanita Banjar menjual aneka barang termasuk berbagai jenis makanan. Jika anda penggemar batu permata, pasar ini adalah tempatnya. Pedagang batu permata menyediakan berbagai macam bentuk batu seperti intan dan batu permata lainnya, baik yang sudah di asah ataupun yang masih kasar. Berbagai bentuk manik-manik juga tersedia dan juga perhiasan perak. Anda juga dapat mengunjungi penggosokan intan Kayu Tangi di Jalan Sukaramai, yang berada di belakang pasar ini.
Di jantung Kota Martapura banyak ditemukan rumah-rumah tempat penggosokan intan baik secara tradisional maupun modern yang terkenal adalah penggosokan Intan Tradisional Kayu Tangi Martapura. Di sini intan dan batu-batuan di bawa dan di gosok secara tradisional dengan berbagai macam bentuk.
Selain terdapat penggosokan Batu Aji, tidak kalah menariknya adalah kerajinan Manik-manik atau hiasan Arguci yang dikerjakan secara unik dan berkelompok-kelompok oleh para pengrajin di Desa Melayu, Kecamatan Martapura. Pemasarannya sampai ke Negara Malaysia dan Brunai Darussalam.
Taman Air Mancur
Taman Air Mancur yang terletak di depan Minggu Raya, juga banyak mengundang pengunjung. Tempat tersebut digunakan pengunjung sebagai tempat bersantai keluarga, tempat latihan Break Dance, atau tempat pertemuan – pertemuan para Komunitas anak muda, dan juga tempat acara – acara hiburan seperti acara kesenian, dan pertunjukkan kreativitas anak – anak muda berbakat, dan juga tempat religius.
Taman Idaman
Taman Idaman Banjarbaru yang terletak disamping Taman Air Mancur. Tempat tersebut banyak digunakan sebagai tempat refreshing para pengunjung dengan keluarganya atau para orang tua yang mengajak anak–anaknya untuk lebih mengetahui tempat terbuka. Dan juga Taman Idaman mempunyai panggung tersendiri untuk pertemuan – pertemuan atau sebagai sarana ajang lomba–lomba kreativitas seperti lomba karaoke, lomba menari atau fashion. Juga sebagai tempat berlangsungnya acara religi.
Di samping itu, Taman Idaman yang memiliki halaman yang cukup luas, memberikan beberapa kelompok organisasi untuk melakukan latihan, seperti latihan marching band. Anehnya, kegiatan latihan tersebut mengundang banyak mata untuk melihat kegiatan tersebut. Dengan mata yang terkagum–kagum, mereka memandang wajah-wajah para pemain marching band. Dengan banyaknya para pengunjung yang melihat kegiatan tersebut, para pedagang kaki lima dan pedagang asongan mengambil kesempatan. Dengan berbagai macam makanan mereka perjualkan, dari makanan ringan sampai bakso, jamu, dan lain–lain terdapat di depan halaman parkir taman idaman Banjarbaru.
Caf –cafe yang ada di Banjarbaru juga banyak berdiri. Dari Cafe sederhana, sampai Cafe mewah. Disamping itu, cafe yang menyediakan hotspot untuk mempermudah pengunjungnya untuk berkomunikasi dan mendapatkan informasi. Seperti yang sudah kita ketahui, cafe – cafe adalah sarana hiburan santai yang berisi berbagai macam hiburan, bahkan cafe juga sebagai sasaran para Band – band lokal dan Band terkenal untuk menampilkan performancenya.
Lapangan Dr. Murjani
Tempat tersebut banyak digunakan sebagai sarana hiburan yang mengundang banyak mata. Dengan mengundang banyak mata, para penjual makanan ringan memanfaatkan kesempatan emas ini. Seperti pedagang kaki lima yang menjual makanan dan minuman ringan, penjual pentol goreng dan rebus, serta tak ketinggalan jagung bakar. Disamping itu selain para pedagang yang menarik pengunjung untuk bersinggah, “Hotspot” yang dibangun oleh Pemko Banjarbaru juga menarik para pengguna Laptop untuk menggunakan kesempatan ini untuk melakukan Browsing dan Download seperti yang sering mereka lakukan untuk mendapatkan informasi dan lain – lain.
Sarana lapangan sepak bola yang ada di Lapangan Dr. Murjani juga digunakan dengan baik oleh para pemain sepak bola. Seperti yang kita ketahui, main bola dominan dilaksanakan pada pagi, siang, atau sore hari. Tapi di lapangan Dr. Murjani juga ada pemandangan unik, yaitu bermain sepak bola tengah malam.
Di Lapangan murjani juaga sebagai pusat panggung para Band dan artis Nasional yang performance di Banjarbaru.
Selain itu, jalan aspal yang luas dan memenggal setengah lapangan juga digunakan sebagai ajang lomba balap sepeda motor berkelas dan Slalom Car Racing para driver handal.
Dengan ukuran lapangan yang begitu besar, lapangan murjani juga dipakai untuk kegiatan olahraga lainnya, seperti pada setiap hari minggu lapangn dipenuhi oleh para pengunjung untuk melakukan lari santai atau jogging serta yang menyukai senam juga disediakan untuk melakukan senam bersama.
Dan juga, pada saat hari besar agama Islam yaitu Hari Raya Idul Fitri dan Adha, lapangan murjani digunakan sebagai sarana ibadah atau Shalat I’d. Karena tempatnya yang luas dan strategis.

sumber..http://www.urangbanua.com/obyek-wisata-pelaihari-kalimantan-selatan.html

Obyek Wisata Yang Ada Di Marabahan Kabupaten Barito Kuala

 

Kabupaten Barito Kuala dengan ibukota Marabahan memiliki cukup banyak lokasi yang dapat dijadikan sebagai obyek wisata, baik itu berupa Wisata Alam, Wisata Buatan, Wisata Religius, Wisata Sejarah/Wisata Budaya, dan Wisata Adat yang cukup potensial untuk dikembangkan.

WISATA ALAM
Pulau Kaget
Pulau Kaget adalah sebuah delta yang terletak di tengah-tengah sungai Barito termasuk dalam wilayah administratif Kecamatan Tabunganen, Barito Kuala, Kalimantan Selatan. Pulau Kaget terletak dekat muara sungai Barito.Waktu tempuh menuju lokasi yaitu ± 15 menit dengan memakai speed boat dari Kota Banjarmasin, atau ± 1,5 jam dengan menggunakan kelotok.
obyek wisata marabahan Pulau Kaget
Panorama Pulau Kaget
Pulau Kaget merupakan habitat bagi Monyet Besar Berhidung Panjang atau oleh penduduk setempat disebut dengan Kera Belanda / Bekantan karena hidungnya panjang, mukanya merah serta perutnya yang gendut. dan beberapa jenis burung. Kawasan pulau Kaget juga merupakan salah satu obyek wisata yang berada di dalam kawasan hutan di Kabupaten Barito Kuala.
Moyet besar berhidung panjang (Bekantan)
Pulau cagar alam yang terletak di tengah muara Sungai Barito, dekat pantai Laut Jawa, dihuni Bekantan (kera berhidung panjang dan berperut buncit). Satwa ini sebagai maskot Kalimantan Selatan, hidup liar dan pemalu, biasa mudah dilihat/ditemui saat pagi hari atau sore hari.
Bekantan yang mempunyai hidung panjang dan lebar
Begituklotok (perahu bermesin) yang membawa rombongan mendekati Pulau Kaget, mereka "disambut" puluhan bahkan ratusan penghuni pulau itu dengan bunyi "nguuuk....nguuuuk, nguuuuuuk...," dan satwa langka itu pun lalu berlompatan kegirangan dari satu pohon ke pohon yang lain. Mungkin maksudnya ucapan selamat datang bagi para tamu.
Sapaan Khas Bekantan
Kaget "disapa" satwa berhidung mancung terhadap siapa saja yang mendekati habitat bekantan (Nasalis larvatus) itulah, pulau seluas 85 hektar itu dinamai Pulau Kaget. Dan Menteri Pertanian selanjutnya memberi status sebagai Cagar Alam Pulau Kaget (CAPK) sejak tahun 1976 guna melindungi warik (monyet Belanda-sebutan populer masyarakat setempat terhadap bekantan) beserta habitatnya.
Agropolitan Terantang
Sesuai potensi yang dimiliki, arah pembangunan Kabupaten Barito Kuala (Batola), tak lepas dari pengembangan sektor pertanian, tanpa mengesampingkan sektor pendukung, yaitu pendidikan, kesehatan,perkebunan, kehutanan, peternakan dan sektor lainnya.
Batola memang tak memiliki kekayaan berupa pertambangan. Kekuatan perekonomian warganya, justru bertumpu pada hasil pertanian.
Kawasan agropolitan dipusatkan di daerah pengairan Terantang dan Belawang, diikuti pengembangan beberapa sentra produksi.
Kawasan sentra produksi jeruk dan holtikultura berbasis padi, dipusatkan di Kecamatan Belawang, Barambai, Cerbon, Mandastana, Jejangkit dan Marabahan. Sedangkan kawasan pengembangan sapi potong dan kambing berbasis padi dan palawija, di kerahkan di Kecamatan Wanaraya dan Barambai. Selain itu ditetapkan pula kawasan sentra kelapa rakyat di Kecamatan Tamban, Mekarsari dan Alalak.
Berikutnya, sentra perikanan dan kelautan di Kecamatan Tabunganen.
Di sektor perikanan dan kelautan, Batola berhasil membudidayakan udang galah sebagai komoditas unggulan.
Agro Sungai Kambat
Pemkab Batola menjadikan kawasan Wisata Agro Sungai Kambat di Desa Sungai Kambat, Kecamatan Cerbon sebagai pusat wisata agro di Kalsel. Salah satu alasannya, di Sungai Kambat terdapat Balai Kasa (balai benih induk) tanaman hortikultura.
Dengan pembangunan sarana dan prasarana wisata agro, Aflus berharap banyak turis mancanegara dan turis lokal datang ke kawasan Wisata Agro Sungai Kambat. Dengan demikian, harga bibit dan buah yang dapat dipetik langsung dikebun oleh turis makin mahal. Selain itu, pemda juga akan membantu pemasaran hasil bibit dan buah-buahan yang ada.
Masyarakat juga dapat menikmati buah jeruk "Siam Banjar" yang rasa sudah terkenal manis sambil menikmati ikan bakar atau goreng yang segar.
Pulau Kembang
"Pulau Kembang" adalah sebuah delta yang terletak di tengah sungai Barito yang termasuk di dalam wilayah administratif kecamatan Alalak, Kabupaten Barito Kuala, provinsi Kalimantan Selatan. Pulau Kembang terletak di sebelah barat Kota Banjarmasin. Jarak ± 2 km dari Kota Banjarmasin dapat ditempuh selama ± 10 -15 menit dengan menggunakan klotok.
pulau kembang Pulau Kembang
Pulau Kembang ditetapkan sebagai hutan wisata berdasarkan SK. Menteri Pertanian No. 788/Kptsum12/1976 dengan luas 60 Ha.Hutan wisata yang terletak di tengah Sungai Barito yang dihuni ratusan kera jinak berbuntut panjang.
Kera di Pulau Kembang
Pulau Kembang merupakan habitat bagi kera ekor panjang (monyet) dan beberapa jenis burung. Kawasan pulau Kembang juga merupakan salah satu obyek wisata yang berada di dalam kawasan hutan di Kabupaten Barito Kuala.
Kera berekor panjang sedang menyantap pisang
Asal Mula Pulau Kembang
Selain pengunjung yang ingin melihat warik-warik, ada pula pengunjung yang sengaja ke Pulau Kambang karena mempunyai niat atau nazar tertentu. Di pulau ini terdapat altar yang digunakan oleh etnis Tionghoa-Indonesia yang mempunyai kaul atau nazar tertentu sebagai tempat meletakkan kambang untuk dipersembahkan kepada “penjaga” Pulau Kambang. Altar tersebut dilambangkan dengan dua buah arca berwujud kera berwarna putih. Jika permohonan mereka dikabulkan, biasanya mereka melepaskan seekor kambing jantan yang tanduknya dilapisi emas sebagai tanda atau ucapan terima kasih kepada “penjaga” Pulau Kambang. Kenapa Pulau Kambang dijadikan sebagai tempat berziarah? Lalu, bagaimana dengan keberadaan warik-warik tersebut? Ternyata, Pulau Kambang sebagai tempat berziarah dan keberadaan warik-warik tersebut memang memiliki cerita tersendiri di kalangan masyarakat Kalimantan Selatan, yang dikenal dengan cerita Pulau Kambang.
Konon, pada zaman dahulu kala, di Muara Sungai Barito berdiri sebuah kerajaan yang bernama Kerajaan Kuin. Letaknya yang strategis menjadikan kerajaan tersebut sangat ramai dikunjungi oleh pedagang dari berbagai negeri. Selain letaknya yang strategis, kerajaan ini mempunyai seorang patih yang sangat sakti, berani dan gagah perkasa. Namanya Datu Pujung. Ia merupakan andalan dan benteng pertahanan Kerajaan Kuin untuk menghalau segala ancaman yang datang dari luar.
Suatu hari, sebuah jung besar berasal dari negeri Cina berlabuh di Sungai Barito. Meskipun di dalam jung itu terlihat kesibukan yang luar biasa, tidak seorang penduduk negeri yang mengetahui apa sebenarnya yang mereka kerjakan dalam jung itu. Penduduk negeri juga tidak tahu maksud kedatangan mereka. Layaknya tamu, semestinya mereka mengirim utusan menghadap kepada penguasa negeri. Lama ditunggu, tak seorang pun yang keluar dari jung itu untuk menyampaikan maksud kedatangan mereka. Sikap yang demikian itu membuat penguasa negeri menjadi lebih berhati-hati. Seluruh pengawal pelabuhan dipersiapkan untuk berjaga-jaga menghadapi segala kemungkinan.
Keesokan harinya, sebuah perahu yang sarat serdadu berseragam dan bersenjata lengkap merapat di tepian sungai. Seorang di antaranya melompat ke darat sambil menambatkan seutas tali di kayu ulin yang sengaja dijadikan titian. “Wahai, anak negeri! Sebelum pertumpahan darah terjadi, kalian semua disarankan untuk menyerah. Jika tidak, negeri ini akan kami musnahkan. Siapapun yang berani melawan akan kami bunuh, dan yang tidak melawan kami jadikan sebagai budak tawanan!” ujar seorang utusan. Datu Pujung menjawab ancaman itu dengan kata-kata yang halus, “Musuh bagi kami tidak dicari. Bila datang, pantang bagi kami untuk menghindarinya.” Lalu, Datu Pujung balik bertanya, “Apakah kalian mampu mengalahkan kami?” Ucapan Datu Pujung membuat utusan itu geram. “Hai, orang tua! Berani sekali kamu berkata begitu. Apakah kamu minta bukti keperkasaan kami?” balas utusan itu. “Ya, begitulah,” jawab Datu Pujung dengan penuh wibawa.
“Hai, prajurit! Kepung dan tangkap mereka!” perintah sang Kepala Utusan. Namun, sebelum serdadu-serdadu tersebut bergerak, Datu Pujung melompat ke arah sang Kepala Utusan dan menorehkan sebilah pisau ke leher orang yang mengancam tadi. “Tidak bijaksana. Sama sekali tidak bijaksana. Sama dengan tidak bijaksananya pisauku ini. Ia akan menoreh dan membuat lehermu berlubang bila anak buahmu meneruskan langkahnya,” gertak Datu Pujung sambil menggores-goreskan pisaunya di leher sang Kepala Utusan.
Melihat keselamatan pemimpinnya terancam, para serdadu mengurungkan niatnya. Mereka tidak berani bergerak sedikit pun. Datu Pujung mundur selangkah. Sambil berbalik ia menawarkan sebuah taruhan. “Hai, Kepala Utusan! Di antara kita tidak perlu ada pertumpahan darah jika tawaranku ini kamu terima secara kesatria!” ujar Datu Pujung.
“Apa itu?” balas si Kepala Utusan penasaran. “Tariklah pohon ulin yang kalian jadikan titian itu sampai ke sini. Dengan senjata yang kalian miliki, penggal pohon itu menjadi dua potong. Jika kalian sanggup melakukannya, seluruh daerah ini akan menjadi milik kalian. Tapi sebaliknya, jika tidak mampu, dengan penuh hormat kami persilahkan kalian meninggalkan daerah ini sebelum kami berubah pikiran,” ancam Datu Pujung sambil menunjuk tebangan pohon ulin sebesar drum yang panjangnya tidak kurang dari sembilan depa.
“Tawaranmu kami terima, orang tua!” sambut Kepala Utusan dengan jumawa. “Kalau begitu. Bersiaplah untuk menarik kayu ulin itu,” ujar Datu Pujung. Mendengar ujaran itu, si Kepala Utusan terdiam. Sepertinya ia mulai ragu pada kemampuannya. Bagaimana mungkin ia bisa mengangkat kayu sebesar drum dan panjang itu. Datu Pujung sudah tidak sabar menunggu si Kepala Utusan melaksanakan kesanggupannya. “Tunggu apalagi, Kepala Utusan?” desak Datu Pujung. Perlahan-lahan si Kepala Utusan mencoba untuk mengangkat pohon ulin itu, namun tidak bergerak sedikit pun. Melihat ketidakmampuan komandannya, seluruh anggota pasukan ikut membantu menarik tebangan pohon ulin. Tapi, usaha mereka tetap saja sia-sia. Jangankan pohon ulin itu bergeser, bergerak pun tidak. Kemudian senjata mereka mereka tebaskan ke batang tersebut, tetapi jangankan pohon itu terbelah, tebasan mereka membekas pun tidak padanya.
Datu Pujung hanya tersenyum melihat tingkah mereka. Sambil mengawasi gerak-gerik lawannya, ia pun segera mendekati pohon itu. Dengan sebelah tangannya, ia menarik kayu ulin itu. Sebilah parang bungkulnya yang terhunus kemudian menebas kayu ulin itu hingga terpotong menjadi dua. Salah satu potongan sengaja ia lemparkan ke arah seluruh pasukan tersebut. Mereka pun lari terbirit-birit ke arah perahu. “Tunggu pembalasan kami sebentar lagi!” ujar mereka mengumbar ancaman. Perahu mereka dayung dengan sekuat tenaga menuju ke jung di tengah sungai.
Datu Pujung tidak menghiraukan ancaman itu. Dengan potongan kayu ulin yang lain, Datu Pujung meluncur ke sungai mengejar mereka. Dalam kejar-kejaran tersebut, Datu Pujung berhasil mendahului mereka tiba di atas jung. Pasukan naik di bagian depan jung, sedangkan Datu Pujung naik di buritan. “Kalian semua memang tidak bisa diberi hati!”, seru Datu Pujung penuh amarah. Ia mengambil pisau kecil dari balik bajunya, lalu mencungkil lambung jung itu. Dalam sekejap, air pun menggenangi jung. Sebuah hentakan kaki Datu Pujung membuat perahu bocor. Air memenuhi seluruh jung hingga tenggelam. Seluruh pasukan dan isi jung pun ikut tenggelam.
Sejak itu, endapan lumpur dan batang-batang kayu yang hanyut di Sungai Barito selanjutnya menimbun jung itu hingga membentuk delta atau pulau.
Asal Mula Warik (kera) di Pulau Kembang
Bagaimana pula dengan Warik (kera) yang banyak di pulau kambang itu? Ternyata memang memiliki cerita tersendiri dan menjadikan pulau ini memiliki daya tarik untuk dikunjungi. Dalam ceriteranya disebutkan salah satu keturunan raja di daerah Kuin tidak dikaruniai anak. Menurut ramalan ahli nujum kalau ingin punya anak harus berkunjung ke Pulau Kambang dengan mengadakan upacara badudus (mandi-mandi). Ramalan dan nasihat ahli nujum ini dipenuhi oleh kerabat kerajaan. Beberapa waktu setelah mengadakan upacara di Pulau Kambang itu, ternyata isteri dari keturunan raja dimaksud hamil. Begitu gembira dan bahagianya keluarga raja dengan kehadiran anak yang dinanti-nantikan, maka raja yang berkuasa memerintahkan petugas kerajaan untuk menjaga pulau tersebut agar tidak ada yang merusak atau mengganggunya.
Petugas kerajaan yang mendapat perintah menjaga pulau ini membawa dua ekor warik besar, jantan dan betina yang diberi nama si Anggur. Konon menurut ceritanya setelah sekian lama petugas kerajaan ini menghilang secara gaib, tak diketahui kemana perginya. Sedangkan warik yang ditinggalkannya beranak pinak dan menjadi penghuni pulau kambang. Para orang tua dahulu ketika mengunjungi pulang kambang masih bisa melihat si Anggur yang memang berbeda dari warik biasa.
Keberadaan warik-warik ini telah menjadikan pulau kambang semakin menarik untuk dikunjungi. Berdasarkan hasil pengamatan yang pernah dilakukan oleh mereka yang perhatian terhadap keberadaan warik di pulau kambang ini diketahui ada dua kumpulan kera yang keluar dari persembunyiannya secara bergantian. Rombongan warik pertama yang keluar sekitar pukul 05.00 s.d. l3.00 dan setelah itu disambung oleh kumpulan warik sip kedua yang berada di tengah pengunjung pulau kambang. Kalau rombongan sip pertama tidak menaati ketentuan dengan pengertian melewati batas waktu operasional, maka ia akan diburu oleh rombongan warik lainnya. Tepatnya waktu itu mungkin hanya sesama warik yang tahu.
Begitulah asal muasal pulau Kambang beserta warik penghuninya. Tentang kebenarannya terpulang kepada Yang Maha Esa. Bahwa Pulau Kambang dan warik itu memang nyata dikelilingi sungai sekitarnya, tak perlu mempersoalkan keberadaannya. Tapi jangan lupa mengunjungi sebagai tempat wisata.

WISATA BUATAN
Jembatan Barito
Adalah obyek wisata yang jaraknya ± 15 km dari Kota Banjarmasin dapat dicapai dengan jalan darat ataupun sungai. Waktu tempuh ± 45 menit dengan menggunakan transportasi air (perahu kelotok) dari Pelabuhan Kuin menuju kearah hulu melintasi ujung Pulau Kembang, Pasar Terapung, Pulau Alalak, dan Pulau Muara Anjir.
Jembatan Barito di lihat dari depan
jembatan barito Jembatan Barito di lihat dari sebelah kanan
Jembatan Barito di lihat dari sebelah kiri
Jembatan Rumpiang
Jembatan Rumpiang adalah jembatan yamg membentang di atas sungai Barito, kota Marabahan, kabupaten Barito Kuala. Jembatan ini diresmikan oleh Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono pada tanggal 25 April 2008. Dengan hadirnya jembatan tersebut akan memperlancar arus lalu lintas dari Kota Marabahan menuju Banjarmasin dan sebaliknya yang sebelumnya harus menggunakan kapal feri untuk menyeberangi Sungai Barito.
Jembatan Rumpiang
 Panorama Jembatan Rumpiang
Jembatan Rumpiang sendiri memiliki total panjang bentang 753 meter dengan bentang utama sepanjang 200 meter menggunakan konstruksi pelengkung rangka baja. Pembangunan Jembatan Rumpiang dimulai sejak akhir tahun 2003, menggunakan dana baik dari APBN maupun APBD Kabupaten Barito Kuala dan Pemprov Kalimantan Selatan sebesar Rp174,5 miliar.
Vihara Cina Pulau Kembang
Di dalam kawasan hutan wisata ini terdapat altar yang diperuntukkan sebagai tempat meletakkan sesaji bagi " penjaga" pulau Kembang yang dilambangkan dengan dua buah arca berwujud kera berwarna putih (Hanoman), oleh masyarakat dari etnis Tionghoa-Indonesia yang mempunyai kaul atau nazar tertentu dan juga sebagai salah satu tempat ziarah orang Tionghoa. Seekor kambing jantan yang tanduknya dilapisi emas biasanya dilepaskan ke dalam hutan pulau Kembang apabila sebuah permohonan berhasil atau terkabul.
Dua buah arca berwujud kera berwarna putih (Hanoman)
Di pulau ini terdapat sebuah Vihara Cina yang sudah sangat tua dan banyak dikunjungi keluarga Cina untuk beribadah. Umumnya para pengunjung datang pada hari Minggu dan Vihara ini dijaga oleh sekumpulan kera berekor panjang yang banyak mendapatkan makanan dari pengunjung seperti kacang, pisang dan telur.
Vihara Cina banyak dikunjungi keluarga Cina untuk beribadah
Cerita tentang tenggelamnya kapal dengan para penumpangnya yang kebanyakan etnis Cina tersebut menyebar dari mulut ke mulut dan waktu ke waktu. Sehingga mereka yang berasal dari keturunan Cinapun banyak yang mengunjungi pulau tersebut untuk mengenang dan memberikan penghormatan terhadap jasad yang berkubur di situ. Jadilah pulau ini sebagai tempat penyampaian doa nadzar, terutama bagi mereka yang merasa memiliki ikatan batin atas keberadaan pulau itu. Dahulu setiap orang yang berkunjung ke sana membawa sejumlah untaian kambang (bunga), dan karena berlangsung sepanjang waktu terjadilah tumpukan kambang yang sangat banyak. Mereka yang melintasi pulau itu selalu melihat dan menyaksikan tumpukan kambang yang begitu banyak. Oleh karena selalu menarik perhatian bagi mereka yang melintasi tempat ini dan menjadi penanda, maka untuk menyebutnya diberi nama Pulau Kambang.
Lama kelamaan nama pulau kambang semakin dikenal dan ramai dikunjungi orang dengan niat dan tujuan yang berbeda-beda. Misalnya ada yang mengkeramatkannya atau sekadar ingin tahu keberadaan pulau kambang yang telah melegenda itu. Sekarang pun masih ditemui adanya kunjungan dari mereka yang punya hajat tertentu dan berbaur dengan para pengunjung atau para wisatawan lainnya setelah mengunjungi pasar terapung.

WISATA RELIGIUS
Makam Syekh Abdussamad
Makam Syekh Abdussamad bin Mufti Jamaluddin bin Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari Kelampayan, dari pihak ibu, ibu beliau adalah orang Dayak Bekumpai asli yang dinikahi oleh anak syekh Muhammad Arsyad al-Banjari yang bernama Mufti Jamaluddin.
Syekh Abdussamad inilah yang berperan besar islamisasi Dayak Bakumpai.
Salah satu ulama keturunan Datu Kalampaian Syekh H Muhammad Abdusamad bin Al-Mufti H Jamaludin bin Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari. Cucu Datu Kalampaian ini lebih banyak berjuang menyebarkan Islam di pesisir Sungai Barito.
H Muhammad Abdussamad, lahir 24 Zulkaidah 1237 hijriah atau 1822 masehi dari seorang ibu bernama Samayah binti Sumandi di Kampung bakumpai atau Kampung Tengah Marabahan.
‘Buah jatuh tak jauh dari pohonnya’, begitu kira-kira pribahasa yang pantas bagi keturunan Syekh Arsyad Al-Banjari seperti Syakh Muhammad Abdussamad. Riwayat hidupnya pun hampir sama dengan kehidupan syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari seperti menuntut ilmu ke Mekkah.
Menginjak dewasa, Syekh Muhammad Abdusamad belajar ilmu agama dengan ayah yang juga terkenal sebagai sebagai ulama dan beberapa temannya di Martapura. Karena dianggap cukup mempelajari ilmu agama, Abdusasamad dipulangkan ke Bakumpai (Marabahan) untuk menyebarkan ilmu agama kepada masyarakat.
Tak lama setelah kembali ke kampung halaman, Muhammad Abdusamad kawin dengan seorang wanita bernama Siti Adawiyah binti Buris. Dari hasil perkawinan, dikarunia empat anak yaitu Zainal Abidin, Abdul Razak, Abu Thalhah dan Siti Aisyah.
Seperti juga kekeknya Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari, Syekh Muhammad Abdusamad haus akan ilmu agama. Karenanya selain mengajar ilmu agama, Muhammad Abdusamad berniaga untuk mengumulkan uang agar dapat menuntut ilmu ke Mekkah disertai anaknya Abdul Razak.
Syekh Abdulsamad belajar dan menimba ilmu, baik syariat maupun hakikat seperti dengan guru Allamah Syekh Khatib Sambas. Dalam ilmu hakekat, Muhammad Abdusamad belajar dengan Allamah Syekh Sulaiman Al-Zuhdi An-Naqsyabandy dan belajar dengan Allamah Syekh Sulaiman bin Muhammad Sumbawa.
Syekh Muhammad Abdusamad bermukim di Mekkah hanya sekitar delapan tahun, karena guru-gurunya menyuruh untuk kembali ke kampung halaman guna menyebarkan agama. Sebelum pulang, Syekh Muhammad Abdusamad sempat diuji keponakan yang terlebih dulu menimba ilmu di Mekkah H Jamaludin bin H Abdula Hamid Qusyasyi.
Karena ketinggian ilmu tarekatnya, Syekh Muhammad Abdusamad sempat hilang saat shalat. Atas ketinggian ilmu tarekatnya itu, keponakannya yang tadinya melarang untuk pulang ke kampung halaman, akhir mempersilakannya.
Sekembali di kampung halaman, Syekh Muhammad Abdusamad mulai membuka pengajian dan ramai dikunjungi para penuntut ilmu dari berbagai daerah. Untuk menampung para penuntut ilmu, Syekh Muhammad Abdusamad membangun sebuah langgar di depan rumah dan membangun balai yang saat ini menjadi kubah almarhum di marabahan.
Dalam kegiatan dakwahnya, Syekh Muhammad Abdusamad selalu melalukan perjalanan ke pesisir Sungai Barito sampai ke udik-udik anak sungai untuk mendakwahkan Islam. Tak heran, banyak suku Dayak pedalaman yang memeluk agama Islam. Genap berusia 80 tahun, Syekh Muhammad Abdusamad meninggal dunia tepat 13 Safar 1317 H.
Makam Datu Gusti Aminin
Gusti Aminin adalah Putera Suryanapati bin Jaya Diwangsa. Tidak diketahui secara pasti kapan beliau dilahirkan. Namun apabila dihitung tahun wafatnya sekitar 1745 masehi, maka saat meninggal diperkirakan usianya tidak kurang dari 100 tahun. Artinya, sekitar tahun 1645-an Gusti Aminin lahir.
Bersama Datu Khayan dan Datu Kapitan, Datu Aminin memimpin masyarakat Pulau Alalak dan Berangas menyerang kapal-kapal Belanda. Sejumlah pertempuran di perairan Sungai Barito pun sudah sering diikutinya. Beliau terkenal sakti, bahkan tembakan musuh tak bisa bersarang di tubuhnya.
Dikisahkan, sekitar abad XVIII terjadi pertempuran hebat di Muara Mantuil Banjarmasin. Karena persenjataan dan kekuatan musuh lebih banyak, Datu Aminin memerintahkan mundur. Namun, karena Datu Kapitan tidak mau mundur dan terus maju, Datu Kapitan pun akhirnya gugur.
Melihat Datu Kapitan tewas bersimbah darah, Gusti Aminin mengamuk dengan mandau di tangan. Pihak musuh banyak yang tewas akibat serangan Gusti Aminin yang membabi-buta tersebut. Sementara peluru yang dimuntahkan Belanda, tak satu pun mampu menembus tubuhnya. Serangan Gusti Aminin ini juga menewaskan seluruh isi kapal Belanda termasuk kapten kapal.
Namun, tidak lama setelah kejadian itu, Gusti Aminin jatuh sakit. Sejumlah peluruh yang tidak berhasil menembus tubuhnya ternyata membuat luka dalam. Gusti Aminin pun akhirnya menghembuskan napas terakhirnya sekitar tahun 1745. Datu Aminin sendiri sebelumnya juga dimakamkan di Desa Berangas. Namun pada tahun 1977, oleh cucu beliau bernama Muhammad Yusuf dipindah ke Pulau Sugara. Usia Muhammad Yusuf sendiri saat pemindahan makam tersebut dikabarkan sudah berusia 165 tahun.
Datuk Khayan - Pejuang Sekaligus Ulama Alalak
Datuk Khayyan adalah bukan nama asli Syekh Abdurrahman Siddik. Nama itu digunakan untuk menghindari sweeping serdadu Belanda. Kemurkaan tentara Belanda terhadap Datuk Khayan, karena ulama besar Alalak ini merupakan sosok pejuang yang senang membela kebenaran.
Lelaki asal Banten ini dikisahkan pernah "madam" (merantau) ke sejumlah daerah. Kalbar, Kalteng, sampai menetap di Kecamatan Alalak, Kabupaten Batola.
Di Kalbar, Datuk Khayan diberi gelar Sayid Abdurrahman Assegeaf Al Bukhayyan. Di kecamatan itulah (sekitar abad ke-17, Red) tengah terjadi pertempuran pejuang pribumi dengan Belanda di perairan Sungai Barito.
Datuk Khayan yang melihat perjuangan rakyat, turut membantu. Dia tidak rela menyaksikan tentara Belanda menguasai Sungai Barito. Karena keberaniannya melawan Belanda di perairan Sungai Barito lah, Datuk Khayan mendapat gelar Darrun Khayyan. Menurut bahasa Dayak, Darrun berarti Panglima. Sedangkan Khayyan adalah nama sub suku Dayak.
Selain berjuang, Datuk Khayan juga dikenal sebagai ulama Tasauf yang mempunyai banyak murid. Datu Khayyan mempunyai 3 istri. Isteri pertama bernama Zamrud asal Martapura. Dari perkawinan dengan Zamrud, ia dikaruniai 5 anak. Sedang dari isteri kedua, Syarifah Radiah asal Nagara HSS, Datuk Khayan dikaruniai 3 anak. Dari isteri ketiga Siti Sajanah, belum didapat data berapa jumlah keturunan.
Pada 1850, Datuk Khayan meninggal dunia dalam usia 150 tahun. Atau tepatnya 10 Rabiulawal, 153 tahun yang lalu. Ia dimakamkan di kediaman Alalak yang belakangan ramai dikunjungi orang.

sumber..http://www.urangbanua.com/obyek-wisata-pelaihari-kalimantan-selatan.html

Obyek Wisata Yang Ada Di Pelaihari Kabupaten Tanah Laut

 

Kabupaten Tanah Laut dengan ibukota Pelaihari memiliki cukup banyak lokasi yang dapat dijadikan sebagai obyek wisata, baik itu berupa Wisata Alam, Wisata Buatan, Wisata Religius, Wisata Sejarah/Wisata Budaya, dan Wisata Adat yang cukup potensial untuk dikembangkan.

WISATA ALAM
Pantai Batakan
Salah satu obyek wisata yang ada di pelaihari yang paling terkenal adalah Pantai Batakan ini.
pantai batakan
Pantai Batakan terletak di Desa Batakan, Kecamatan Panyipatan, Kabupaten Tanah Laut (Tala), sekitar 125 kilometer arah timur dari Kota Banjarmasin (Ibukota Provinsi Kalimantan Selatan). Untuk mencapai lokasi Pantai Batakan, dari Kota Banjarmasin relatif mudah karena kondisi jalannya cukup baik. Walaupun jalannya berkelak-kelok dan turun-naik, tetapi menyajikan pemandangan alam yang indah berupa barisan perbukitan yang menghijau, hamparan persawahan yang menguning, serta perkampungan nelayan yang berada di tepi pantai.
Pantai Batakan merupakan obyek wisata bahari yang terpadu dengan panorama alam pegunungan, karena di sebelah timurnya terdapat perbukitan pinus yang menjadi bagian dari Pegunungan Meratus. Di pantai ini pengunjung dapat mengelilingi pantai sambil menggunakan kuda sewaan, bersantai di bawah pohon cemara sambil menikmati keindahan pantai, atau menyaksikan panorama alam terutama saat matahari akan terbenam (sunset).
Pantai Batakan juga dilengkapi pula dengan fasilitas khas tempat rekreasi, seperti kamar mandi untuk bilas, rumah ibadah (masjid), panggung hiburan, cottage, restourant, penginapan, playground, hingga areal parkir kendaraan bermotor yang cukup luas.
Pantai Takisung
Pantai Takisung adalah merupakan obyek wisata pantai yang mempesona dengan pemandangan pantai dengan aktivitas jual beli ikan segar maupun ikan kering langsung dari nelayan.

Pantai Takisung terletak di Kecamatan Takisung yaitu sebelah barat wilayah Kabupaten Tanah Laut. Berjarak kurang lebih 22 km dari kota Pelaihari atau kurang lebih 87 km dari ibu kota Kalimantan Selatan yaitu Banjarmasin. Meskipun Pantai Takisung merupakan Laut Jawa, namun ombaknya tidak besar seperti halnya pantai selatan pulau Jawa. Sehingga aman untuk wisata maupun menjadi pemukiman.
Sebagai objek wisata, Pantai Takisung bisa digolongkan obyek wisata pantai yang mempesona dengan pemandangan pantai yang dikelilingi oleh pohon-pohon kelapa dengan pasirnya yang coklat seperti air lautnya (untuk identifikasi airnya, yaitu dari hasil observasi didapatkan pH airnya 9 yang tergolong basa dengan suhu 250C dan kecepatan aliran airnya sebesar 1927 rpm, sedangkan tingkat kecerahan airnya sebesar 32 cm), ditemanin banyak pasar-pasar yang menjual jajanan khas pantai, mulai dari ikan asin, hiasan kerang, udang, ikan, sampai terumbu karang langsung dari nelayan. Ditambah lagi Pemerintah Kabupaten Tanah Laut yang terus mempoles objek wisata ini melalui pembangunan sejumlah fasilitas umum yang tak dimiliki objek wisata pantai lainnya. Diantaranya, selter, panggung permanen, rumah makan (belum dioperasionalkan), dan penginapan.
Air Terjun Bajuin
Air Terjun Bajuin terletak 10 km dari kota Pelaihari tepatnya di Desa Sei Bakar Kabupaten Tanah Laut atau 75 km dari kota Banjarmasin ibukota Kalimantan Selatan.
Air terjun Bajuin yang meiliki panorama pegunungan yang sangat indah
Air terjun Bajuin yang mengalir dengan derasnya
Air Terjun Bajuin memiliki panorama pegunungan yang indah dan eksotik. Air terjun Bajuin ini terletak di kawasan lereng pegunungan Meratus serta ditingkahi kencangnya angin yang menyebabkan air terjun seolah-olah menari-nari dari atas puncaknya menuju ke bawah.
Goa Marmer
Objek wisata Goa Marmer dapat ditempuh dengan berjalan kaki ± 30 menit dari Air Terjun Bajuin.
Goa Marmer memiliki keunikan karena dinding goa banyak terdapat batu marmer yang biasa digunakan untuk ubin rumah dan bentuk atas goa seperti kubah masjid, di dalam goa juga terdapat kehidupan binatang malam yakni Kelelawar.
Pantai Swarangan
Pantai Swarangan terletak di Desa Swarangan, Kecamatan Jorong. Aksesibilitas ke obyek tersebut dapat ditempuh melalui transportasi darat dengan jarak tempuh ± 52 km dari ibukota Kabupayen Tanah Laut ( Pelaihari), atau 117 km dari kota Banjarmasin ibukota Kalimantan Selatan.
Merupakan objek wisata pantai dengan berbagai sarana pendukung, menyaksikan matahari terbit. Mempunyai daya dukung dengan gelombang air laut cukup besar. Wisata pantai dengan tumbuhan pohon bakau, sarana panggung hiburan, publik toilet. Daya dukung atraksi wisata bahari dengan besar gelombang serta kejernihan air laut.

Pantai Batu Lima
Pantai Batu Lima terletak di Desa Kuala Tambangan Kecamatan Takisung, dari ibukota Kabupaten Tanah Laut (Pelaihari) berjarak ± 35 km. sarana yang tersedia di objek ini seperti : Play Ground, Shelter dan Cottage yang berjumlah 18 buah.

Pantai Tanjung Dewa
Pantai Tanjung Dewa terletak di Desa Tanjung Dewa Kecamatan Panyipatan Kabupaten Tanah Laut. Hanya dengan menempuh jarak sekitar 100 km dari kota Banjarmasin maka kita sudah tiba di pantai Tanjung Dewa. Jarak yang tidak terlalu jauh ini memungkinkan kita untuk dapat berakhir pekan ke pantai Tanjung Dewa ini kapanpun kita mau. Perjalanan menuju pantai Tanjung Dewa ini sangat tidak membosankan karena kita akan melintasi areal persawahan dan pegunungan yang hijau dan indah. Sangat cocok untuk melepaskan kepenatan terhadap rutinitas harian kita.Beberapa pantai di Kalsel lebih menonjolkan pesona pasirnya, namun pantai Tanjung Dewa sedikit berbeda yaitu dengan keindahan karangnya yang lebih mempesona.

Pantai Tanjung Dewa memiliki 2 bagian, ada bagian yang berpasir dan ada juga yang berkarang. Jika kita duduk di atas salah satu karangnya, maka sangat tepat untuk menikmati landscape pantai dan laut secara bersamaan. Tidak hanya itu saja, selain bisa menikmati keindahan laut dan pantai kita juga bisa menikmati keindahan pegunungan dari kejauhan. Saat cuaca cerah lekuk-lekuk gunung akan sangat jelas terlihat.
Air Terjun Balangdaras
Air terjun Balangdaras terletak 25 km dari kota Pelaihari tepatnya di Desa Tanjung Kecamatan Pelaihari Kabupaten Tanah Laut.

Air terjun Balangdaras memiliki panorama pegunungan yang indah dan eksotik. Berada di ketinggian pegunungan dengan ketinggian ± 45m Air Terjun Balangdaras yang berada di kawasan pegunungan Maratus.
Kerbau Rawa Banua Raya
Menyusuri sungai dan rawa untuk menyaksikan kumpulan hewan kerbau. Wisata sungai dengan pemandangan gunung dan areal persawahan. Terletak 26 km dari kota Pelaihari atau tepatnya di Desa Benua Raya Kecamatan Bati-Bati Kabupaten Tanah Laut.


Daya dukung lingkungan yang berada di antara pegunungan dengan pengembangan wisata memancing dan berperahu.
Gunung Karamaian

Bukit Kayangan
Bukit Kayangan memiliki pesona yang memukau dengan pemandangan perbukitan dan hamparan perkebunan Kelapa Sawit.

Aksesibilitas darat dapat ditempuh ± 55 km dari Kota Banjarmasin tepatnya sebelum kita menuju/memasuki Kota Pelaihari tentunya melewati objek wisata tersebut. Sarana yang tersedia saat ini berupa tempat ibadah (Mushola), dan jenis wisata yang bisa dikembangkan berupa wisata MICE (Wisata Meeting and Conference).
Wisata Alam Pedesaan panyipatan
Desa Panyipatan yang terletak di Kecamatan Panyipatan Kabupaten Tanah Laut merupakan tempat obyek wisata khas alam pedesaan.
Usaha tani yang masih diterapkan secara tradisional tanpa pupuk anorganik dan keasrian alam gi kawasan sentra pertanian (padi lokal).
Area penanaman padi di Panyipatan mencapai ratusan hektare. persawahan itu menjadi satu dengan tiga desa tetangga, Telaga Langsat, Kandangan Baru, dan Batu Tungku.
Kawasan pertanian tersebut juga menyimpan kekayaan hayati yang beragam. Terdapat rawa dalam yang menyimpan ikan air tawar khas Kalimantan, antara lain, papuyu dan haruan (gabus).
Selain populasinya sangat banyak, ukurannya juga besar-besar. Desa Panyipatan memiliki potensi wisata alam terpadu yang eksotis.

WISATA BUATAN
Taman Mina Tirta
Keindahan di Taman Mina Tirta Pelaihari waktu siang, sungguh nyaman untuk tempat beristirahat dan santai sejenak sambil menikmati keindahan panorama kolam di Taman Mina Tirta ini. Selain ada taman bermain anak-anak, taman bunga, juga ada sarana rekreasi berupa perahu sewa berbentuk angsa untuk bersenang senang mengitari kolam Taman Mina Tirta Pelaihari ini.

Selain itu, bagi kamu yang hobi mancing juga bisa menyalurkannya disini. Disekitar Taman juga ada sejumlah pedagang yang menyediakan beraneka minuman segar, tempat yang sangat cocok bagi kamu yang mau ber istirahat sejenak. Bagi kamu yang dari Kota Baru, Kintap dan sebagainya yang hendak bepergian ke Kota Banjarmasin, bisa mampir dan istirahat sebentar di taman ini, tempatnya tidak jauh dari simpang perkantoran Pemda Tanah Laut.
Taman Kijang Kencana
Letak taman ini berada di tengah kota Pelaihari, taman yang selalu dikunjungi oleh muda-mudi, tak hanya itu para orang tua dan yang ingin menikmati asrinya Taman Kijang Kencana.

dapat dijumpai di sekitar taman sambil menikmati indahnya kota Pleihari
Taman Hutan Kota
Taman hutan kota ini terletak di jalan H Boejasin, Pelaihari. Pohon yang ditanam cukup bervariasi yang sebagian besar adalah pohon berkayu hutan tropis. Diantaranya adalah jenis mahoni. Pohon yang memiliki nilai ekonomis ini akan melengkapi dan dimungkinkan sebagai pengganti pepohonan yang ada di hutan kota yang umumnya masih didominasi akasia.

WISATA RELIGIUS
Pulau Datu
Pulau Datu adalah pulau kecil yang terdapat di dekat Pantai Batakan, kecamatan Panyipatan, Tanah Laut, Kalsel.
pulau datu
Dinamakan pulau Datu karena di pulau tersebut terdapat makam seorang datu (sunan/penyebar agama Islam) yang dikenal dengan sebutan Datu Pamulutan, yang dahulu punya kegemaran menangkap burung dengan pulut (getah).

Datu Pamulutan ini bukan nama asli beliau melainkan hanya sebutan/gelar yang diberikan masyarakat karena semasa hidup beliau suka mamulut (cara berburu dengan menggunakan getah, biasanya untuk berburu unggas) burung. Menurut cerita warga setempat dahulunya pulau Datu dan pantai Tanjung Dewa merupakan satu kesatuan, namun karena proses alam maka akhirnya pulau Datu dan pantai Tanjung Dewa terpisah.
Jika kita ingin ke Pulau Datu kita tinggal menyewa perahu yang ada disana. Kita tidak perlu merogoh kocek dalam-dalam karena biayanya tidak terlalu mahal. Berdasarkan kalender wisata pada bulan Maret ini akan dilaksanakan haul Datu Pamulutan di desa Tanjung Dewa tersebut. Selain bisa menikmati wisata alam kita juga bisa menikmati wisata religius disana. Bagi yang beruntung, di sekitar Pulau Datu juga akan ditemui beberapa ikan lumba-lumba berkeliaran.
Manaqib Datu Pamulutan
Datu Pamulutan sebenarnya bernama Sultan Hamidinsyah yang berasal dari Batang Banyu Mangapan Martapura, sehingga nama M Thaher merupakan nama samaran dalam menjalankan tugas sebagai wali dan hamba Allah.
Sultan Hamidinsyah ini mempunyai adik yang bernama Sultan Ribuansyah yang juga seorang pengemban dakwah, dalam menyebarkan Islam mereka menempuh jalan masing-masing, yaitu Hamidinsyah atau Datu Pamulutan ke arah timur dan adiknya kearah barat.
Datu Pamulutan mempunyai seorang murid setia yang selalu mengiringi perjalanan beliau, namanya H Syamsudin yang mempunyai nama asli Bamasara. Syamsudin, menurut pendapat sebagian orang adalah penduduk asli Tanjung Dewa yang juga dimakamkan di Pulau Datu, posisinya lurus dihunjuran (bagian kaki) makam gurunya.
Didalam kubah datu pamulutan, masih ada dua makam lainnya, yaitu makam H Abdussamad dan H Jafri, mereka adalah dua bersaudara itu sebagai seorang guru agama dan pada saat wafatnya juga berpesan agar dimakamkan di pulau Datu.
Datu Pamulutan selama hidupnya senantiasa melaksanakan tugas dan kewajiban sebagai seorang wali untuk menyebarkan agama, ia juga memiliki jiwa patroiotisme dan heroisme, terbukti dengan perannya dalam mengkoordinir masyarakat Desa Tanjung Dewa untuk mengusir penjajan Portugis.
Kemudian, dari semua kegiatan yang patut dicatat selama hidupnya, Datu Pamulutan mampu membagi waktunya untuk tiga kegiatan yang bukan pekerjaan mudah, yaitu menyebarkan agama kepada masyarakat, mengkoordinir masyarakat untuk melawan penjajah yang ingin mendarat melalui pantai muara Tanjung Dewa dan sekitarnya, juga tetap menjalankan hobinya memulut (menjebak, Red) burung di daerah Tanjung Dewa, sehingga dari sinilah ia mendapat gelar sebagai Datu Pamulutan.
Dalam perjuangan melawan penjajah yang sudah sempat memasuki Kota Bandarmasih, ia mempunyai anak buah, yaitu Patih Mulur dan Patih Matis yang bertugas di daerah Pulau Pinang, Datu Saliwah yang punya ciri muka hilang sebelah di Tabuniu, Pangeran Penyapu Rantau, Datu Sumpit Gunung Dewa, Panglima Dumalik Kandangan Lama di Kandangan Lama mempunyai sebuah senjata sakti yaitu parang jarum, karena terbuat dari sekarung jarum, Patih Singa di Tanjung Selatan. Patih Arjan di daerah perbatasan Sebuhur.
Yang cukup menonjol dalam hal ini masalah fanatisme beragama, benar- benar di laksanakan antara yang halal dan haram yang suci dan najis. Sehingga sebelum beliau wafat sudah sempat berpesan, bila kelak dipanggil oleh Allah agar dikuburkan di desa Tanjung Dewa.
Setelah berpesan, beliau menggaris batas tanah dengan ibujari kaki. Untuk membatasi tanah agar tidak tercemar dari hal-hal najis, seperti dikencingi anjing, apalagi sampai diinjak penjajah kafir.
Di sinilah tampak keramat beliau, tanah yang digaris lambat laun menjadi sungai kecil dan akhirnya menjadi lautan. Sehingga tanah yang digaris jadi pulau tersendiri. Datu pamulutan wafat dan dimakamkan di Pulau Datu tahun 1817 Masehi, sedangkan muridnya menyusul 8 tahun kemudian atau pada tahun 1825 Masehi.
Sebenarnya ia wafat di desa tempat tinggalnya di Martapura, kelak bila meninggal dimakamkan ke Tanjung dewa. Karena jalan waktu itu masih belum seperti sekarang, maka jenazah dibawa lewat sungai kemudian menyisir laut dengan menggunakan sampan. Di sini kembali terlihat karamahnya, sampan yang digunakan menurut pandangan orang awam bukanlah sampan yang layak untuk mengarungi lautan, karena kecil dan lagi bocor, sehingga ragu apakah sampai atau tidak.
Namun dengan ridho dan rahmat Allah akhirnya sampan bisa sampai ke Tanjung Dewa.
Sampai sekarang, tanah yang menjadi makam beliau terpisah dari daratan, berjarak sekitar 1,2 - 1,5 kilometer. Sekarang sudah ada dermaga yang cukup sederhana, pengelolaan makam sendiri dilakukan oleh pihak ahli waris dan kerabat H Syamsudin muridnya, Makam keramat ini juga sudah menjadi tempat wisata religius, memanjatkan doa untuk dirinya. Namun karena letaknya di dekat wisata Batakan. Kondisi tersebut memungkinkan masyarakat sekitar untuk mendapat penghasilan tambahan, yaitu mengantar peziarah menyeberang dengan menggunakan perahu.


WISATA SEJARAH / WISATA BUDAYA
Upacara adat Balian
Upacara adat Balian merupakan kegiatan yang menjadi tradisi menggambarkan aturan-aturan dari nenek moyang suku Dayak Maratus.
Upacara Adat Balian
Maksud dari dilaksanakannya upacara tersebut adalah dalam rangka meminta kepada Yang Kuasa agar Desa (kampung) dari komunitas suku Dayak Maratus terhindar dari segala hal yang tidak diinginkan ( Pembersihan Kampung ). Arti Balian itu sendiri adalah mengelola yang di kelola ( Sanggau Bangun ) yang menjadi hak milik balian.
obyek wisata pelaihari Berlangsungnya upacara adat Balian
Fisik Sanggau Bangun adalah berbentuk persegi empat sebagai tempat memanggil roh-roh nenek moyang terdahulu dari Suku Dayak Maratus. Didalamnya di taruh/ diberi sasajian/ makanan menurut kepercayaan supaya memberi dampak keselamatan kampung, terdiri dari Batang Pinang, serutan bamboo, kayu papannya ( pulantan ) yang disekelilingi dengan daun hanau.
Seluruh suku dayak Meratus mengikuti upacara adat Balian
Bagi "Suku Dayak Maratus" acara tersebut dilaksanakan setiap tahunnya, namun selama 3 (tiga) tahun terakhir kegiatan Balian tersebut tidak terlaksana dikarenakan keterbatasan dana dari keluarga besar suku Dayak ( Pengelola Balian ).
Selain itu juga, masih ada beberapa wisata yang ada di Pelaihari yang dapat dikunjungi, yaitu Telaga Alam Banyu Batuah, Bukit Sanghiyang, Selamatan Bajuin, Selamatan Laut Tabanio.
Upacara Adat Mandi Badudus di Pantai Batu Lima
Masyarakat Tanah Laut ternyata memiliki akar budaya yang cukup kuat, dibuktikan dengan tetap dilestarikannya sejumlah tradisi, warisan nenek moyang. Salah satunya yaitu, ritual mandi badudus di Pantai Batu Lima, yang digelar setiap tahun oleh warga Desa Kuala Tambangan Kecamatan Takisung.
Sayangnya, even tahunan yang sangat menarik ini, belum dipromosikan dengan baik. Sehingga meski sudah dijadikan agenda wisata tahunan oleh dinas pariwisata dan seni budaya, namun acara ini tidak banyak diketahui wisatawan. Kebanyakan pengunjung adalah masyarakat dari desa-desa sekitar Pantai Batu Lima.
Untuk sekadar diketahui, mandi badudus adalah ritual warga kampung nelayan, sekitar pantai batu lima. Prosesi ritual dilaksanakan di pantai, yang sejajar dengan posisi 5 buah batu besar yang terletak sekitar 300 meter dari bibir pantai.
Ritual ini digelar dengan tujuan, agar anak cucu warga desa tersebut selamat dan tidak mendapat marabahaya atau musibah, juga dengan harapan tangkapan ikan semakin meningkat.

sumber..http://www.urangbanua.com/obyek-wisata-pelaihari-kalimantan-selatan.html

Objek Wisata Di Provinsi Maluku

Taman Laut Banda

Banda adalah sebuah pulau kecil yang besarnya hanya 44 kilometer persegi, terletak sekitar 132 km di sebelah selatan Ambon. Pulau ini memiliki sebuah pelabuhan dan dikelilingi taman laut serta pantai yang mempesona. Pada jaman dulu negara-negara Eropa seperti Belanda, Portugis dan Inggris berbondong-bondong mendatangi pulau ini untuk melakukan perdagangan dengan penduduk lokal khususnya produk rempah-rempah seperti cengkeh dan pala. Keserakahan merekalah yang akhirnya mengubah perjanjian dagang menjadi sistem penjajahan yang bercokol selama berabad-abad di Indonesia.
Kepulauan Banda berada di tepian palung paling dalam di wilayah Indonesia yaitu Laut Banda. Di sekitar Pulau Manuk misalnya, kedalaman airnya bahkan mencapai 6.500 Meter. Taman laut di area ini tak diragukan lagi memang luar biasa indah. Hampir setiap pulau dikelilingi taman laut yang kaya akan koral dan berbagai jenis ikan. Di pulau ini juga tersedia fasilitas yang nyaman untuk akomodasi maupun kegiatan sightseeing, snorkelling dan scuba diving.
laut Banda




















Taman Nasional Manusela – Pulau Seram

Para pelancong sering mengunjungi Taman Nasional ini khususnya di lembah Manusela dan kawasan datar Lilialy Plain, di mana tanahnya masih sangat subur. Di sinilah tumbuh beberapa sayuran termasuk kobis dan seleri yang lebih dikenal oleh bangsa barat. Di beberapa bagian tertentu pulau ini masih diijinkan untuk berburu. Ribuan babi hutan maupun spesies burung dan kupu-kupu masih bisa ditemukan di kawasan hutan perawan di pulau ini.

burung kakatua Seram


Ambon – Kota Sejarah dan Budaya Maluku

Selain sebagai ibukota propinsi Maluku, Ambon juga merupakan pusat peninggalan sejarah dan budaya Maluku. Di antaranya yaitu beberapa bekas benteng pertahanan VOC dari jaman penjajahan dan perdagangan rempah. Monumen perang ANZAC adalah tempat untuk melakukan peringatan atas beberapa tentara sekutu yang gugur di wilayah ini pada saat Perang Dunia Kedua. Dan pada bulan Agustus diadakan Darwin-Ambon Yacht Race.
Pulau Ambon juga memiliki beberapa pantai dan taman laut yang indah, di antaranya pantai Batu Capeu  yang terletak sekitar 4 km dari teluk Ambon, pantai Poka-Rumahtiga, 21 km dari Ambon di mana perlombaan Kano, Ski Air dan Boat sering diadakan. Juga pantaiTanjung Marthafons, 21 km dari Ambon, dengan segala perlengkapan olah raga air dan terakhir pantai Amuhusa atau Ambon Bay yang mempunyai panorama dan juga batu koral  yang indah.
 


Ambon



Objek Wisata Lainya
 
MUSEUM SIWALIMA
Museum Siwa Lima memiliki koleksi antara lain benda-benda peninggalan sejarah, rumah adat dan pakaian adat Maluku. Dari museum ini pengunjung dapat melihat panorama yang indah sekitar Kota Ambon
TUGU DOLAN
Doolan terletak di dekat kawasan Kudamati dan merupakan tugu peringatan bagi tentara Australia yang tewas bertempur di daerah ini

COMMONWEALTH WAR CEMETERY
Di Tantui terdapat Commonwealth War Cemetery yang merupakan lokasi pemakaman lebih dari 2000 tentara Sekutu berkebangsaan Australia, Belanda, Inggris dan India yang tewas dalam berbagai pertempuran di Sulawesi dan Maluku pada masa Perang Dunia ke-2. Pemakaman ini memiliki taman yang indah.

MONUMEN PATTIMURA
Pahlawan nasional yang memimpin perlawanan terhadap Belanda di daerah ini. Monumen yang dibangun di pinggir sebuah lapangan olah raga ini adalah lokasi di mana Pattimura yang nama aslinya Thomas Matulessy, seorang putra dari Pulau Saparua dan pengikutnya menjalani eksekusi hukuman gantung


MONUMEN MARTHA CHRISTINA TIAHAHU
Di kawasan Karang Panjang terdapat monumen Martha Christina Tiahahu yang juga adalah seorang pejuang kemerdekaan Maluku. Ayah Tiahahu adalah pendukung perjuangan Pattimura melawan Belanda. Ia kemudian ditangkap dan dieksekusi di Pulau Nusa Laut dan Tiahahu dibuang ke Jawa. Ia memprotes tindakan Belanda dengan melakukan aksi mogok makan hingga tewas, jenazahnya kemudian dibuang ke laut


GEREJA TERTUA DI KOTA AMBON
Wisatawan dapat mengunjungi Soya Atas yang berada di lereng Gunung Sirimau (950m). Di sini terdapat gereja protestan yang sangat tua dengan bentuknya yang unik, konon dibangun pada tahun 1546.


PUNCAK GUNUNG SIRIMAU
Dari puncak Gunung Sirimau wisatawan dapat menyaksikan panorama yang indah ke arah Kota Ambon. Ditempat ini Di tempat ini terdapat tempayan setan yang dipercaya dapat memberikan keberuntungan kepada pengunjung


PANTAI NATSEPA
Natsepa yang berada di kawasan Teluk Baguala terdapat Taman Rekreasi Natsepa Indah yang memiliki lokasi pantai yang indah dan perairan yang menyenangkan untuk berenang. Pada hari libur lokasi pantai ini selalu ramai dikunjungi orang. Tidak jauh dari tempat ini terdapat Taman Lunterse Boer yang juga memiliki pantai yang menarik.


TAMAN LUNTERSE BOER
Taman ini terletak dekat pantai natsepa dan juga memiliki pantai yang sangat menarik


KOLAM WAISELAKA
Desa Waai yang terletak di kawasan pantai timur Pulau Ambon juga memiliki lokasi pantai yang indah namun tempat ini juga terkenal dengan Kolam Waiselaka yang menjadi habitat hewan belut dan disebut-sebut dapat memberikan keberuntungan bagi pengunjung yang melihat hewan ini. Belut-belut berada di dasar kolam di balik bebatuan. Penduduk setempat memancing belut agar mau muncul ke permukaan dengan menggunakan umpan telur


PULAU POMBO
Di lepas pantai, di timur laut Pulau Ambon terdapat sebuah pulau kecil Pulau Pombo yang memiliki lokasi perairan yang sangat bagus untuk menyelam karena airnya yang jernih dan keindahan alam bawah air dengan terumbu karang serta dihiasi dengan flora dan fauna laut. Lokasi ini menjadi kawasan cagar alam Taman Pulau Pombo yang dilindungi.


PANTAI NAMALATU
Pantai Namalatu berhadapan dengan Laut Banda, terletak disebelah Selatan Pulau Ambon, di Desa Latuhalat, Kecamatan Nusaniwe, tepatnya 15 km dari pusat kota Ambon. Kata Namalatu sendiri berasal dari kata Nama dan Latu yang berarti Nama dan Raja. Desa Latulahat adalah sentra produksi batu bata yang dibuat secara tradisional oleh masyarakat dan sudah berlangsung secraa turun temurun. Perajin perahu cengkeh, cindramata khas Maluku juga terdapat di desa ini. Desa ini juga memiliki pantai dengan taman lautnya yang indah sehingga cocok untuk berenang, snorkeling dan menyelam. Lokasi ini juga merupakan tempat memancing yang ideal. Pantainya yang berpasir putih dan sebagian berkarang. Pada bulan Maret/April muncul laor (lycde Oele) sejenis cacing laut yang ditimba beramai-ramai di malam hari dengan menggunakan nyiru dan diterangi obor. Penerangan obor sepanjang pesisir pantai menjadi pemandangan malam yang sangat indah.


PANTAI LELISA
Pantai Lelisa terletak di Desa Latulahat, bersebelahan dengan pantai Namalatu yang sudah dilengkapi dengan fasilitas penginapan dan cottage serta restoran.  Pantai Lelisa memiliki formasi karang sampai ke pantai dan memberikan pemandangan yang khas saat pasang surut. Merupakan tempat berenang yang aman dan merupakan tempat rekreasi yang populer bagi masyarakat Ambon



PANTAI FELAWATU
Pantai Felawatu terletak di Airlow, sebelah Timur Desa Latulahat, Selatan Pulau Ambon sekitar 15 km dari pusat kota Ambon. Pantai ini menawarkan tempat pertemuan untuk diskusi, seminar dengan suasana yang tenang. Dilengkapi pula dengan fasilitas penginapan, restoran dan tempat rekreasi. Di desa Naku juga memiliki pantai yang indah dipinggiran laut Banda dengan air yang jernih dan tempat yang ideal untuk menyelam dan berselancar. Di sekitar pantai ini ada Anihang, air terjun setinggi 15 meter dan juga ada gua yang disebut Liang Kupang, berlokasi di Tanjung Kecil. Tempat ini merupakan tempat persembunyian tentara pada masa Perang Dunia ke II dan banyak ditemukan tulang manusia di gua ini. Setiap tahun desa ini dibersihkan dengan cara tradisional.


TANJUNG SETAN
Tanjung Setan yang merupakan titik tempat memulai penyelaman untuk menikmati keindahan terumbu karang. Terletak di Desa Morela, sebelah Utara Pulau Ambon


PANTAI HUNIMUA
Pantai Honimua yang terletak di jazirah Hitu, Pulau Ambon dengan pasir putihnya sepanjang 4 km. Airnya sangat jernih untuk berenangdan untuk mencapai pantai ini bisa menggunakan kendaraan umum


PINTU KOTA
Pintu kota merupakan obyek wisata alam lainnya terletak antara Desa Airlow dan desa Seri di bagian Pulau Ambon yang dikelola oleh masyarakat setempat. Benda unik berbentuk gapura yang terbentuk dari tebing terjal batu karang yang sebagian tertutup air ketika pasang dan terbuka di saat air surut. Obyek wisata ini ramai dikunjungi kalangan remaja yang menyukai petualangan dan hiking melewati jalan setapak menuju Pintu kota. Ada pula jalan setapak lainnya menuju Pintu Kota sekaligus menikmati pemandangan alam Laut Banda yang terkenal sebagai salah satu laut yang terdalam di dunia


WISATA AIR PANAS HATUASA
Di desa Tulehu yang merupakan suatu desa adat sekaligus ibukota Kecamatan Salahutu sekitar 25 km dari Ambon dimana terdapat beberapa sumber air panas dan sebuah kolam air tawar. Obyek wisata Air Panas Hatuasa terletak dua km dari terminal Tulehu yang dikembangkan penduduk sejak tahun 1996. Suhu air panasnya mencapai 50 derajat celcius-80 derajat celcius Konon air panasnya dapat menyembuhkan penyakit rematik dan penyakit kulit. Tersedia fasilitas ruang ganti dan MCK sederhana.


KOLAM AIR WAILATU
Kolam air Wailatu terletak di Desa Tulehu dengan luas kolam sekitar 1.500 meter persegi yang airnya dimanfaatkan masyarakat untuk mandi dan cuci. Di kolam ini juga hidup sejumlah belut raksasa yang menarik perhatian pengunjung untuk melihat atraksi pemberian makan. Ikan yang berasal laut dapat hidup bersama belut panjang sekitar 1-1,5 meter dengan diameter 10 cm. Belut ini keluar dari persembunyiannya apabila diberi umpan makanan


BENTENG AMSTERDAM
Benteng Amsterdam yang berada di kawasan pantai utara di dekat Hila dan Kaitetu dengan panorama pantai yang indah. Benteng ini dibangun oleh Portugis pada tahun 1512 namun kemudian diambil alih oleh Belanda pada awal abad ke-17. Benteng yang memiliki museum kecil ini telah mengalami perbaikan secara menyeluruh dan menjadi salah satu benteng paling terpelihara di Maluku


GEREJA IMANUEL (GEREJA TERTUA DI INDONESIA)
Gereja Immanuel Protestan yang diduga sebagai gereja tertua di Indonesia. Gereja ini dibangun Portugis pada tahun 1580 namun diambil alih oleh Belanda 200 tahun kemudia, Hila


MASJID WAPAUE
Masjid Wapaue yang dibangun pada tahun 1414 di dekat Gunung Wawane. Menurut legenda masjid ini dipindahkan ke tempatnya sekarang pada tahun 1664 dengan menggunakan kekuatan gaib.

sumber..http://www.lestariweb.com/Indonesia/Maluku.htm
             http://www.malukuprov.go.id/index.php/objek-wisata
















 





















 
RESEP MAKANAN INDONESIA