Objek Wisata Di Kota Madura

Wisata Petik Laut

petiklaut1-kabarmadura-135x100 Wisata Petik Laut
Kecamatan : Bluto
Desa : Lobuk
1. Nama Jenis Potensi Wisata : Petik Laut
2. Luas Area :
3. Sarana dan prasarana : Jalan yang beraspal
4. Deskripsi Potensi Wisata :
Desa Lobuk terletak dipesisir pantai tepatnya di kecamatan Bluto ±15 Km dari jantung kota Sumenep, tepatnya ke arah selatan dari kota Sumenep. Mayoritas penduduknya bekerja sebagai nelayan. Masyarakat lobuk punya kebiasaan setiap tahunnya harus melakukan ritual. Karena tepat berada di pesisir pantai, maka ritual tersebut di namakan Rokat Tasek (Petik Laut) dan menguras sumur yang berada di bibir pantai yang dinamai dengan SUMUR DEKHAI (Sumur Dangkal) dan dipercaya oleh masyarakat mengandung mistik. Pelaksanaan Ritual ini dibiayai oleh Swadaya Masyarakat dan dilakukan secara turun temurun sejak nenek moyang mereka. Sebelum pelaksanaan acara, tiga hari sebelumnya masyarakat Lobuk terlebih dahulu membersihkan sumur, lalu membuat perahu kecil atau GHITEK yang terbuat dari pohon pisang, untuk tempat kepala sapi dan sesaji lainnya yang akan di lepas ketengah laut.
Setelah acara pelaksanaan tiba semua masyarakat dan tokoh masyarakat, ulama berkumpul di area sumur Dhekai (dangkal) tersebut mengadakan doa bersama disertai dengan pembacaan maulid nabi dan kemudian mengambil air sumur kemudian mencampurnya dengan kembang/bunga dan dibagikan kepada pemilik perahu untuk disiramkan pada perahu dan alat-alat nelayan lainnya. Setelah doa bersama selesai, barulah acara pelepasan prahu GHITEK yang telah diisi dengan kepala sapi dan sesaji.
Perahu dilepas ketengah laut dengan disaksikan oleh beribu-ribu orang. Pesta Rokat ini harus dilakukan semeriah mungkin, tujuannya agar hasil tangkapan ikan para nelayan bertambah banyak. Pesta petik laut biasanya dilakukan selama 2 hari 2 malam. Dengan hiburan Ludruk, ketoprak.
Deskripsi Pengolahan / Pengembangannya
Untuk tetap berkembangnya budaya petik laut masyarakat lobuk mengharap peran serta pemerintah daerah setempat sehingga pelaksanaan Petik Laut tidak akan punah karena acara ritual seperti ini banyak memakan biaya.

Asta Gumuk Brembeng


gumuk-kabarmadura-135x100 Asta Gumuk BrembengKecamatan : Kalianget
Desa : Kalimo’ok
1. Nama Jenis Potensi Wisata : Asta Gumuk (Brembang)
2. Luas Area : 100m x 150m
3. Sarana dan prasarana : Kamar Mandi/Toilet & Jalan Batu
4. Deskripsi Potensi Wisata :
Di desa Kalimo’ok tepatnya di Sebelah timur lapangan terbang Trunojoyo Sumenep terdapat makam atau kuburan/Asta K.Ali Barangbang. Mengapa dikatakan Barangbang, karena terletak di dusun Barangbang. K. Ali Barangbang mempuyai silsilah dari Syekh Maulana Sayyid Jakfar, As Sadik atau dikenal dengan Sunan Kudus yang mempunyai keturunan Pang. Katandur yang mempunyai empat anak yaitu : K. Hatib Paddusan, K. Hatib Sendang, K. Hatib Rajul, K. Hatib Paranggan. Dari Putra pertamanya diberi keturunan K. Ali Barangbang yang wafat 1092 H.
Semasa hidup K. Ali adalah merupakan seorang ulama besar dan penyiar agama islam yang sangat disegani. Bahkan raja Sumenep juga berguru ke K. Ali. Konon menurut sejarah beliau. K.Ali mempunyai kelebihan diluar nalar, binatang (kera) di ajari berbicara bahkan sampai bisa mengaji. Pada waktu Sumenep pemerintahannya masih berbentuk kerajaan. Seorang raja mempunyai anak, dititipkan k. Ali untuk belajar mengaji. Ringkas cerita, pada saat belajar mengaji Putra Raja tersebut dipukul oleh K. Ali. Setelah itu Putra Raja pulang dan mengadukan sikap K. Ali pada sang Raja. Jelas raja sangat marah namun Raja tidak langsung menghukum K. Ali namun memerintahkan sang prajurit untuk memanggil k. Ali dan menanyakan alasan kenapa putranya sampai dipukul. Tanpa rasa takut K. Ali menjawab bahwa sebenarnya dia tidak berniat memukul putra raja melainkan kebodohan yang menemani putra raja. Mendengar jawaban tersebut raja tersinggung putranya di anggap bodoh, dengan marah kemudian raja mengatakan hal yang sangat mustahil, raja mengatakan bahwa jika memang K Ali bisa membuat orang pintar dengan memukul maka k. Ali bole pulang membawa kera dengan syarat harus bisa mengajari sang kera mengaji.
Ringkasnya sang kera dibawa oleh K. Ali ke rumahnya, dan setiap malam K. Ali mengajak sang kera untuk memancing bersamanya, hingga pada suatu malam tepatnya malam ke 39, K. Ali memberikan tali tambang yang terbuat dari sabut kelapa kepada sang kera dengan cara mengikatkan pada jarinya lalu dibakar. Sambil berkata K. Ali kepada kera : “Hai kera jika sampai pada jarimu api itu dan terasa panas di tanganmu maka teriklah dan katakan panas…” saat itulah kera bisa berbicara dan akhirnya sang kera bisa mengaji.
Tiba saatnya sang kera untuk pulang ke keraton dan menunjukkan kemampuannya untuk mengaji. Di keraton K. Ali mengadakan pertemuan besar dengan raja dan disaksikan oleh para punggawa kerajaan sekaligus mengadakan pesta. Setelah semua berkumpul, kemudian sang kera di beri Alquran, dan betapa terkejutnya sang raja beserta para punggawa yang hadir ketika melihat dan mendengar kera mengaji dengan indah. Setelah selesai mengaji k> Ali melemparkan pisang kepada kera dan berkata “Ilmu Kalah Sama Watak” yang dalam bahasa maduranya “Elmo Kala ka Bebethe’”. Dan raja pun ikut berbicara bahwa barangsiapa yang menuntut ilmu tidak menginjak tanah brangbang maka ilmunya tidak syah.
Begitulah kisah cerita K. Ali yang rasanya sangat sulit di terima dengan akal sehat dan itulah kelebihan K Ai sampai sekarang Asta K. Ali Brangbang tidak pernah sepi dari peziarah.
Deskripsi Pengolahan / Pengembangannya
Karena banyaknya pengunjung yang ingin berziarah kepada K. Ali, jadi perlu adanya pengembangan atau pemegaran tempat seperti Musollah, Tempat peritirahatan, dan tempat parkir.


 payudan1-135x100 Gunung Payudan
Kecamatan : Guluk-Guluk
Desa : Payudan Daleman
1. Nama Jenis Potensi Wisata : Gunung Payudan
2. Luas Area : 150M x 40M
3. Sarana dan prasarana : Jalan masuk aspal dari jalan utama sepanjang 1400m selebihnya sampai lokasi belum beraspal 700m
4. Deskripsi Potensi Wisata :
objek wisata ini berada di atas pegunungan yang bernama Gunung Payudan, tepatnya di Desa Payudan Daleman Kecamatan Guluk-Guluk Kabupaten Sumenep kurang lebih 30 Km ke Arah Barat Kota Sumenep. Bagi masyarakat Sumenep Khususnya, Gua Payudan mempunyai arti penting mengingat gua ini memiliki keterkaitan dengan sejarah raja-raja Sumenep abad 14 samapi 17. Gua ini tidak hanya bernilai sebuah obyek wisata Alam (goa) saja, tetapi juga mengandung makna religi dan sejarah didalamnya.
Goa payudan pada jaman dahulu kala, pada masa kerajaan merupakan tempat bertapa / bersemedi sebagian raja-raja Sumenep. Adapun raja-raja Sumenep yang pernah bertapa di Goa ini adalah:
1. Potre Koneng, adalah Putri dari Pangeran Soccadiningrat II Raja Sumenep yang berkuasa sekitar tahun 1366 sampai 1386 yang keratonnya pada waktu itu masih berada di Desa Banasare Kecamatan Rubaru. Potre koneng ini mempunyai suami yang juga raja di Sepudi yang bernama Adi Poday sekitar tahun 1399-1415 yang masih cucu dari sunan Ampel Surabaya.
2. Pangeran Jokotole, adalah Pangeran yang bergelar Pangeran Soccadiningrat III Raja Sumenep pada Tahun 1415-1460. beliau adalah Putra tertua dari Pasangan Potre Koneng dengan Adipoday. Jokotole tidak hanya di kenal di wilayah Madura saja, tetapi sudah keluar Madura seperti Jawa dan Bali. Konon Jokotole merupakan raja yang sangat disegani karena keahlian ilmu kanoragannya. Hal ini terbukti pada jaman kerajaan Majapahit, Jokotole mampu mengalahkan Blambangan yang pada akhirnya di jadikan Menantu raja majapahit yaitu Raja Brawijaya.
3. Pangeran Jimat, Raja Sumenep tahun 1731-1744, adalah putra Pangeran Rama (Pangeran Cakra Negara II)
4. Ke Lesap, Raja Sumenep tahun 1749-1750, beliau berkuasa hanya sebentar karena tewas terbunuh ketika berperang melawan raja dari bangkalan. Adapun Ke Lesap sendiri adalah keturunan dari Bangkalan.
5. Bindara Saod. CR. Tumenggung Tirtonegoro) Raja Sumenep tahun 1750-1762
Untuk menuju / mengunjungi tempat ini tidak begitu sulit, dari Sumenep naik angkutan umum menuju ganding lalu ganti angkutan menuju Pasean atau batu Ampar, kemudian turun di pertigaan Desa Payudan Daleman. Sedang dari pertigaan bisa menaiki dokar (Andong) atau jalan kaki sekitar 2 Km sampai ke Lokasi Goa.
Konon menurut ceritanya, goa ini pertama kali ditemukan Yaitu oleh K. Sulaiman bin Samukdin yang berasal dari Pamekasan. Awalnya K. Sulaiman bersemedi di Asta Juruan Kecamatan Batu Putih Kabupaten Sumenep selama 21 Hari. Selama melakukan tapa tersebut, bekal yang dibawa yaitu jagung sangrai. Setelah hari ke 21, K Sulaiman mendapat petunjuk untuk pergi ke Arah barat, tepatnya ke gunung payudan. Setelah 3 hari 3 malam berjalan ke arah barat sampai dan naik maka terdengar suara sayup-sayup seperti ada orang menumbuk jagung. Setelah di dekati ternyata tidak ada seorangpun yang sedang menumbuk jagung, yang ada hanya tempat rindang dengan dinding batu disertai dengan tempat beristirahat dan terdapat banyak lubang. Akhirnya beliau bertawassul kepada Yang Maha Esa. Lalu datanglah petunjuk bahwa tempat tersebut merupakan tempat bertapa para raja-raja terdahulu.
Diceritakan di atas Goa bahwa orang yang pertama kali mendirikan rumah di atas Goa Payudan adalah keturunan terakhir dari K. Sulaiman yaitu K. Tayyib pada tahun 1908. tapi pada tahun 1938 K. Tayyib pindah ke Pamekasan dengan alasan banyak celeng (babi Hutan) yang kemudian ditempati kerabatnya yang lain yaitu maniti yang sekaligus menjadi juru kunci Goa tersbut.
Sampai saat ini banyak pengunjung kesana, bahkan orang yang bersemedi disana sulit berganti artinya di tempat itu selalu ada orang yang bersemedi, bahkan ada yang sampai satu tahun lamanya.
Deskripsi Pengolahan / Pengembangannya
Goa payudan merupakan salah satu obyek wisata alam yang ada di Madura khususnya di kecamatan Guluk-guluk Kabupaten Sumenep, dengan tingkat pengunjung yang cukup berpotensi. Maka sudah saatnya tempat ini dijadikan obyek wisata alam unggulan khususnya Kabupaten Sumenep. Untuk membuat obyek wisata ini lebih dikenal dan lebih banyak pengunjung, tentunya perlu adanya pembenahan-pembenahan struktur maupun infrastruktur. Dalam hal ini dinas terkait yaitu Dinas Pariwisata dan kebudayaan Kabupaten Sumenep, sudah saatnya memperhatikan obyek wisata tersebut. Adapun pengembangan yang perlu diutamakan di lokasi obyek ini antara lain;
1. Tangga naik menuju halaman / pelantaran Goa perlu diberi pagar atau pegangan penyangga untuk mengurangi resiko kecelakaan pada pengunjung. Hal ini penting dan harus segera dilakukan mengingat tangga menuju lokasi sangat berbahaya dan curam dan licin.Goa memiliki tiga lantai; pertama adalah halaman Goa dengan ukuran kurang lebih 27m x 10m, lantai kedua (diatasnya) yaitu berukuran ±35m2 dan biasa digunakan sebagai ruang tamu (Lobbi); sedangkan lantai diatasnya yaitu lantai ketiga difungsikan untuk Solat.
2. Membentuk suatu yayasan atau perkumpulan khus mengelola keberadaan Obyek wisata Goa ini seperti obyek wisata lain yang ada di Kabupaten Sumenep (Asta Tinggi dan Asta Yusuf Talango).
3. Pembuatan Peta atau denah Lokasi yang menunjukkan arah serta jalan yang bisa dilalui.


suramadu-01-135x100 Objek Wisata Madura - Suramadu Jawa TimurWisata di Bangkalan - Sampang - Pamekasan - Sumenep (Pulau Garam - Madura)

Pulau Madura adalah bagian dari provinsi Jawa Timur. Dipisahkan oleh selat Madura, pulau ini dapat dicapai dalam waktu 40 menit dari terminal ferry di Ujung. Sejak 10 Juni 2009, sudah terhubung sebuah jembatan yang megah dan dikenal dengan Jembatan Nasional Suramadu, diresmikan oleh Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono. Pulau ini memiliki daya tarik yang memikat. Banyak obyek dan daya tarik alam maupun budayanya yang mempesona. Atraksi wisata yang sudah menjadi agenda tetap pariwisata Jawa Timur adalah Kerapan Sapi yang diselenggarakan pada musim kemarau. Puncaknya adalah Kerapan Sapi besar se Madura. Namun begitu, Kerapan Sapi ini dapat diselenggarakan atas pemesanan. Banyak Wisatawan Mancanegara dalam bentuk grup memesan atraksi ini untuk mereka saksikan, yang penyelenggaraannya dilaksanakan di Bangkalan.
BANGKALAN
Dari terminal Ferry Kamal, Kota Bangkalan dapat ditempuh dengan segala kendaraan hanya dalam waktu 25 menit. Daya tarik wisata Bangkalan antara lain Makam Air Mata Ibu di Arosbaya, kurang lebih 11 km utara kota Bangkalan. Makam ini adalah Makam istri Raja Cakraningrat. Pahatan batu pada makam itu begitu indah dan mempunyai ragam ukir yang spesifik. Cinderamata dari daerah ini yang terkenal adalah batik tulis Tanjung Bumi, sebuah kecamatan di sebelah utara Arosbaya. Dengan corak ragam hias yang khas dan memikat, baik Tanjung Bumi banyak diminati oleh para perancang busana terkenal.
SAMPANG
Ke arah timur 62 km dari Bangkalan, Pantai Camplong Dapat dijadikan tempat persinggahan wisata jalur selatan. Taman rekreasi pantai ini dilengkapi dengan arena bermain anak-anak. Fasilitas penginapan Camplong Cottage dilokasi ini dapat menjadi sarana penginapan wisatawan yang nyaman.
PAMEKASAN
Pamekasan terletak 33 km sebelah timur Sampang. Di kecamatan Proppo terdapat sentra kerajinan seni batik tulis Madura dengan corak yang berbeda dibandingkan dengan corak batik Madura yang lain. Dari arah Sampang sebelum memasuki kota Pamekasan terdapat sumber api alam abadi yang berlokasi tidak lebih dari 500 meter jalan raya Sampang-Pamekasan.
SUMENEP
Sumenep terletak di ujung timur pulau Madura. Banyak sekali Khasanah seni budaya mewarnai kota ini antara lain Keraton Sumenep yang sampai saat ini masih tetap terpelihara dengan baik. Keraton ini arsitekturnya bergaya campuran antara gaya arsitektur Jawa, Cina, Barat bahkan Arab. Disamping itu masih banyak lagi daya tarik wisata yang menarik, misalnya Masjid Jamiq, makam keluarga Raja Asta Tinggi. Kesenian klasik tari Mowang Sangkal, tari Topeng Dalang dan beberapa tari tradisional yang lain adalah kekayaan budaya Sumenep. Obyek wisata Pantai Slopeng dan Lombang dengan hamparan pasir putih dan cemara udangnya menambah keaneka ragaman pesona Madura.

dam masih ada lagi lainya di antaranya

Alun Alun Pamekasan

Alun Alun Pamekasan

Pantai Sambilangan

Pantai Sambilangan

Mesjid Agung Bangkalan

Mesjid Agung Bangkalan

  Mesjid Agung Sumenep

Ratu Ibu Sampang

sumber.http://www.kabarmadura.com/category/wisata-madura

0 komentar:

Poskan Komentar

 
RESEP MAKANAN INDONESIA